Key: Rindu yang lupa pulang.

16.09

Pagi ini, kutemukan diriku membenci puisi, kau tau? puisi selalu saja ingin menjadi dirimu dalam ketakutanku. Sejak kemarau, keringnya lidahku selalu saja menampakkan kernyihnya senyummu yang basah: rindukah aku-kau?
Kurapikan kembali rak bukuku yang sesak oleh keraguan, sebab seperti kau, buku adalah tanda tanya, dan aku mataku adalah kesabaran paling tangguh di tubuh mungilmu; merelakan otakmu mencernaku lebih jauh. Romanku berubah, seperti payung yang digantikan jas hujan. Aku melangkah perlahan, dadaku seperti sedang melakukan perayaan, jantung yang membuncah, paru dengan desah yang parau, dan darah yang beku seperti perbincangan kita dulu, memaksaku untuk melupakan kenyamanan dalam nyanyian kecilku. Buku pemberianmu dulu, ketika kita bersepakat untuk berpisah di kota yang adalah keramaian dalam bahasamu. (Bersambung)

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images