Di bawah payung semesta yang gelap kini, aku berusaha menemukan kembali gumpalan rindu yang gagal menemuimu dan menyatukan kembali setiap serpihan dari retakan rindu yang berkabung dan menjadi pilu. untukmu, akan ku kelabui angin yang ingin mendahuluiku menyeka air matamu ketika kesedihan menggagalkan rindu yang kuterbangkan kepadamu. Percayalah, akan kucuri lukisan tuhan yang ia titipkan pada senyummu..
hingga nanti saat rinduku telah kau pangku dan kau percaya akulah sang pelukis kebahagiaanmu..
lalu aku dan kau Menyatu dibawah tatapan hujan yang datang ketika matahari mecemburui kita..
itu merdu, walau aku tak bisa menjaga cuaca untukmu..
ada kebahagian yang ingin ku ceritakan pada sepasang telinga yang sedang merindukan terang. ketika malam mulai nampak dengan sedikit sunyi yang ia bawa bersamanya. aku melerai pikiranku yang berusaha mengurung hati dalam kepedihan, mereka selalu bertengkar perihal rindu yang selalu ku sematkan pada bulan. aku masih disini, ditempat biasa aku merajut mimpi dengan segelas kopi dan sebatang rokok. sebelum aku benar benar membuka pintu kamar lalu tidur dalam pelukan mimpi. setiap malam aku ditemani oleh nyanyian nyanyian perihal pedih yang memerihkan hati. tapi itu membuktikan bahwa setiap malam aku tak sendiri. aku percaya ada malaikat yang menyanyikan lagu rindu yang ia titipkan lewat udara lalu menyengat tubuhku dengan dinginnya. lalu ada bidadari yang menitipkan salam untuk pria peneguk kopi yang sedang duduk dibatas keindahan malam melalui cahaya yang samar samar dari bulan. malam selalu berbicara kepada melalui mereka, malam tak pernah membiarkanku duduk sendiri. ia selalu punya cara untuk memberitahukanku. malam ini aku duduk dan merenung, masih sama seperti renunganku kemarin kemarin. selalu saja tentang perempuan perangsang senyumku. setiap malam aku selalu menyempatkan diri untuk menyapanya, hanya sekedar menyapa. dialah yang selalu diceritakan malam dalam mimpiku. aku tidak pernah bosan untuk memimpikannya, ia seperti seorang putri yang tiba tiba datang dan membiusku dengan pesonanya. keindahan perempuan itu selalu saja berhasil menindih kesadaranku. aku punya cara sendiri melewati malam, begitupun malam punya cara sendiri untuk menampakkan dirinya. kadang aki berpikir, kami berdua adalah kesepian yang berusaha menampakkan diri pada keramaian. aku ramai karna hati dan pikiranku disesaki perihal perempuan itu, dan malam ramai karna misteri yang dirangkulnya ketika tiba gilirannya untuk mengunjukkan gigi dibelahan bumiku. kami berdua saling menutupi, malam tau banyak sekali rahasiaku. tentang nama dalam doa ketika aku berada pada sujud panjang, tentang senyum yang dia tau siapa perangsangnya dan masih banyak lagi. ketika nanti aku telah berhasil mengikatnya dengan komitmen, aku akan memperkenalkan perempuan itu kepada malam. aku ingin sekali, tidur dan diceritakan tentang perempuan itu setiap hari dan berkali kali. karena hanya dialah yang mampu mengerti batas penantianku. hanya dia !!!
Jingga menyala, diatas ombak Tak
tenang
Adalah Matahari yang merebahkan diri
setelah Bertualang
Dibatas cakrawala, Pantai seolah
teduh dibawah cahayanya
Mata yang tertuju padanya adalah
bukti keindahannya
Namun seperti kehidupan yang lazim
Konsekuensi dari keindahan adalah
kenangan
Begitupun senja yang pasti berlalu
dilahap malam
Tapi tetap tersimpan dan mendiami
khayalan
Sungguh merdu kala pantai memangku
sunset
Keindahan merangkul khayalan lalu
ikut terseret
Kedalam taman mimpi yang datang
ketika malam
Pantai dan sunset simbol makna
keindahan yang dalam
Jenuh aku
memangku rasa
Menuntun
lamunan memapah resah
Dengan
rindu gerakku kau jamah
Lalu hati
berbisik tak bersuara
Kau terlalu
jauh bersembunyi
Dibalik
makna yang selalu kuurai
Mengapa aku
selalu mati
Ketika akal
dan hati berkelahi
Kau
meninggalkan jejak rindu
Dengan
tatapan tajam tanpa ragu
Aku kembali
berhalusinasi tentangmu
Berharap
imaji tak dilahap waktu
Aku
terinjak rasa tak beralasan
Menyeka
setiap sudut dalam ruang
Kau hidup
dalam setiap khayalan
Sampai
kapan rindu Berkumandang ???
Tali
pengikat itu tak terlihat
Tak pernah
terhalang sekat
Dalam malam
yang semakin penat
Aku masih
menimang rindu yang tersirat
Akhirnya aku melihatmu hanya diam dan
terduduk
Hey ayah, istirahatlah tulangmu bisa
remuk
Duduklah lalu pangku kakimu
Aku akan menyeduhkan segelas kopi
untukmu
Lalu, Ceritakan padaku tentang
bahagiamu
Atau kau tak pernah ada waktu untuk
tersenyum ?
Maaf ayah, jika kehidupan memaksamu
mengubur senyum
Aku selalu minta sesuatu yang
membuatmu lesu
Kau selalu mengorbankan senyummu
untukku yang tak pernah tau caranya bersyukur
Kau bekerja lebih ekstra untuk
memenuhi keinginanku
Sedang aku semakin mencelupkan diriku
dalam lumpur
Maafkan aku ayah, sungguh
Kau adalah Kata indah yang tak pernah
mampu kuurai
Kau adalah Ayah juara satu yang tak
pernah mengeluh
Dan aku hanyalah Mahluk yang selalu
kau hidupi
Kini aku telah beranjak dewasa ayah
Biarkan aku merangkul kebahagian
bersamamu
Bawa serta keluargaku dalam simpul
kebahagiaan ayah
Dan kubangkitkan senyummu yang sempat
kau kubur dahulu
Kau
ada pada setiap wajah
Terpahat
dan membuatnya semakin indah
Tak
pernah berkurang porsinya
Bahkan
pada wajah yang mungkin tak sempurna
Hingga
aku menemukan senyum yang lain disana
Segaris
bibirnya yang mengembang bebas
Entah
apa yang memaksaku terus menatapnya
Keindahannya
menjalar ke mata semakin deras
Tanpa
beban, senyum itu terus berkumandang
Pesona
yang kian mengayun khayalan
Senyum
itu mengajak mata untuk berperang
Bertahan
untuk menatap keindahan
Sesekali,
tangan ingin meraihnya
Tapi
serakah jika kunikmati senyum itu sendiri
Ah,
biarkan saja ia terus terpahat pada wajah
Hingga
kelak sang pemilik senyum itu mati
Kau Tau awan ?
Ia menampung uap
untuk mencipta Hujan
Seperti kau yang
selalu meluap dalam khayalan
Dan bersemedi dalam
ruang ruang perasaan
Kau tau Pelangi ?
Ia menyatukan warna
untuk menghias bumi
Seperti rindumu dan
Imaji yang meramu mimpi
Dan meretas asa yang
terbungkus dihati
Kau tau Langit ?
Ia meneduhkan jiwa
jiwa yang bersaing sengit
Seperti kau yang
menghindarkanku dari rasa pahit
Dan menumpah ruahkan
rasa tanpa pelit
Dan Akhirnya kau Akan
tau
Mereka semua
Menjiplak dirimu dan Pesonamu
Kau yang tak pernah
ragu mengepul rindu
Dan jatuh kesuara
suara Yang Parau
