Pagi ini, kutemukan diriku membenci puisi, kau tau? puisi selalu saja ingin menjadi dirimu dalam ketakutanku. Sejak kemarau, keringnya lidahku selalu saja menampakkan kernyihnya senyummu yang basah: rindukah aku-kau?
Kurapikan kembali rak bukuku yang sesak oleh keraguan, sebab seperti kau, buku adalah tanda tanya, dan aku mataku adalah kesabaran paling tangguh di tubuh mungilmu; merelakan otakmu mencernaku lebih jauh. Romanku berubah, seperti payung yang digantikan jas hujan. Aku melangkah perlahan, dadaku seperti sedang melakukan perayaan, jantung yang membuncah, paru dengan desah yang parau, dan darah yang beku seperti perbincangan kita dulu, memaksaku untuk melupakan kenyamanan dalam nyanyian kecilku. Buku pemberianmu dulu, ketika kita bersepakat untuk berpisah di kota yang adalah keramaian dalam bahasamu. (Bersambung)
Pada resah yang adalah langkahku, kau sibuk mengeja setiap jejaknya. Bukan pada langkahku kau menemukan hujan turun pelan membasahi setiap petikan kenanganmu. Pada setiap ejaan-mu-lah yang basah karena ingatan tentang perjalanan langkahku. Seindah apapun gerak tubuhku mengayun langkah, tetaplah akan menjadi samar pada titik kau tak mampu lagi mengejanya. Mungkin kau lupa, sejak awal aku adalah resah dan kau adalah tukang baca yang paling baik namun tak pernah mampu selesai membacanya. Karena tetap saja aku adalah resah yang samar kelak oleh matamu yang berbinar oleh akar masa depanmu.
Aku siap meregang
Sunyi yang telah lama mengekang
Di penjuru tidurku aku pernah diserang
Mimpi - mimpi yang mengajakku berperang
Sudahi saja malam diruang imajinasimu
Sadar akan siang yang datang tanpa malu
Sebelum gelapnya manaruhmu ditepian rindu
Dan cerita cerita pernikahan tanpa penghulu
Apakah kau tak mau tau
Sedang aku sekarat menunggumu
kau dan imajinasimu yang selalu berperang
Selalu membujukku untuk tak pernah menang
Mememangkan senyummu
Ataupun memenangkan sajadah yang akan menuntunmu sembahyang
Nabire, 21 agustus 2015
Kau adalah debar untuk jantung yang hampir mati oleh sepi
Kau adalah nafas untuk paru yang tak mampu lagi meramu mimpi
Senyummu mampu ku temukan walau deretan nama coba membingungkan
Suara paraumu mampu ke dengar meski pagar tinggi menjulang coba menghadang
Kau adalah keindahan yang membagi diri sebelum pecah menjadi ketiadaan
Kau adalah semangat yang mengurungku ketika keputusasaan coba menggoyahkan
Langkahmu mampu menjelma menjadi nada dalam perjalanan
Gerakmu mampu menghempas rasa paling sendiri dalam keheningan
Tanpamu,
Aku hanya cerita tanpa pembaca
Tanpamu,
Aku hanya akal tanpa kepala
Dalam sujud panjangku,
Aku menaruh namamu sebelum kalimat amin ku kumandangkan
Dalam sela kening dan sajadahku
Ada rindu yang diam diam coba ku terbangkan
Kearahmu
Adalah satu satunya jalan yang Tuhan perlihatkan
Nabire,17 agustus 2015
Aku selalu membakar habis kenangan
Di kepalaku selepas musim hujan
Akan ada kemarau panjang tahun ini
Kau memberi api membakar alasan alasan yang membahagiakan diri
Jari jari kaki tak lagi mau terlipat
Sepatu pemberianmu tak pernah punya ukuran tepat
Kini aku membuangnya tanpa sisa
Termasuk jejak jejak yang pernah menemuimu
Aku pernah belajar merelakan sebelum kau,
Pernah juga aku meninggalkan seperti kau
Tapi aku tak mau menjadi kenangan sepertimu
Hanya membuat sesak di dada yang selalu saja ingin pecah karenanya
Tapi kau tau?
Surga hanya milik orang orang yang punya kenangan
Sebab disanalah sabda sabda bahagia di baringkan
Sepertimu yang kini menjadi kenanganku;tidak untukku menjadi kenanganmu
Dalam hening malam yang kesepian adalah jiwamu
Ada rindu yang mematahkan akarnya dari pandanganmu
Tungkai pohon yang tak pernah subur di keningmu
Dan doa doa yang gagal terbang dalam sujudmu
Aku betah menjadi aku yang tak kau rindu
Pasir hisap di jantungku yang terbuat dari butiran airmata untukmu
Adalah keterasinganku dari waktu yang tak pernah menjauh darimu
Sampai pada aku tak menjadi aku
Aku akan mencandui ketidakrinduanmu
Sampai pada aku kembali menjadi aku
Aku belajar mengenal senyum
Sebelum pertemuanku patah dalam rindu yang mematikan
Bagiku, senyum hanya sekedar lengkungan indah yang terpahat di wajah
Bila ia tak di kenali
Namun jika kau mau mengenalnya
Kau akan berenang di antara mata yang pernah merekam tawanya
Menyusuri sungai asinairmata pekat di pipinya yang mungkin telah kering
Dan bibir yang pernah di tumbuhi caci maki sebab kehilangan
Kau akan menemukannya
Senyum punya dua cara menyempurna
Ia bisa rebah di pundak yang haus akan cerita cerita sedih untuk diteduhkan
Atau, mati bersama kesepian malam bersama ranting ranting yang gagal tumbuh di masa depan
Nabire, 7 agustus 2015
